Kualitas Hidup yang Lebih Baik untuk Pasien Asma dengan Berhenti Mengandalkan Inhaler Pelega SABA melalui Kampanye #StopKetergantungan

  • Menurut Studi Global Burden of Disease (GBD) pada tahun 2019, diperkirakan ada 262 juta orang yang terdampak asma di seluruh dunia.
  • Berdasarkan studi SABINA (SABA Use in Asthma), menunjukkan bahwa 37% pasien
    asma di Indonesia diresepkan inhaler pelega short-acting beta-agonist (SABA) ≥3
    kanister/tahun, di mana jumlah resep tersebut justru dapat meningkatkan risiko serangan asma yang lebih parah.
  • Kampanye “Stop Ketergantungan” bertujuan untuk mengedukasi masyarakat, terutama
    pasien asma dan para tenaga kesehatan, mengenai penyakit asma dan penanganan
    yang tepat.

Jakarta, 10 Mei 2023 – Laporan strategi GINA (Global Initiative for Asthma) 2019-2022
menunjukkan bahwa penggunaan inhaler pelega SABA secara rutin, bahkan hanya dalam 1-2 minggu, justru kurang efektif, dan menyebabkan lebih banyak peradangan pada saluran napas, serta dapat mendorong kebiasaan buruk penggunaan secara berlebihan¹’²’³. Ketika pasien asma terlalu sering menggunakan/terlalu bergantung pada inhaler pelega SABA, mereka berisiko tinggi mengalami serangan asma, dirawat di rumah sakit, dan dalam beberapa kasus, kematian³. Para ahli asma percaya bahwa “paradoks asma” merupakan faktor penting dalam tantangan penanganan asma, di mana ketergantungan yang berlebihan terhadap inhaler pelega SABA telah dianggap oleh pasien sebagai pengendali penyakit, terutama karena inhaler pelega SABA telah menjadi lini pertama terapi asma selama lebih dari 50 tahun³’

Beberapa data menunjukkan kondisi pasien asma di Indonesia masih membutuhkan
pengobatan yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Studi SABINA (SABA Use in Asthma) menunjukkan bahwa 37% pasien asma di Indonesia diresepkan inhaler pelega jenis short-acting beta-agonist (SABA) sebanyak ≥3 kanister/tahun, di mana jumlah resep tersebut justru dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan yang parah.

Dr. Eva Susanti, S.Kp, M.Kes, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, mengatakan, “Banyak pasien asma di Indonesia yang masih mengalami serangan, yaitu sebanyak 57,5%, (Riskesdas 2018)7.

Kami sepenuhnya mendukung inisiatif yang sejalan dengan tujuan pemerintah, yaitu meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pendekatan kebiasaan hidup masyarakat.
Kampanye ‘Stop Ketergantungan’ merupakan langkah penting untuk meningkatkan
kesadaran masyarakat dan mempromosikan kualitas hidup yang sehat bagi para penyandang asma. Kami berharap kampanye ini dapat membantu sebanyak mungkin pasien asma di Indonesia untuk menjaga kualitas hidup yang lebih baik.”

Sebuah talk show bertajuk “Stop Ketergantungan: Inhaler Tepat, Redakan Asma” diselenggarakan dalam beberapa sesi yang dihadiri oleh Kementerian Kesehatan, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, dan Zaskia Adya Mecca sebagai seorang yang merawat penderita asma. Acara ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat, khususnya pasien asma dan tenaga kesehatan, mengenai penyakit asma dan penanganan yang tepat untuk penyakit ini melalui kampanye “Stop Ketergantungan”.

Dr. H. Mohamad Yanuar Fajar, Sp.P, FISR, FAPSR, MARS, Dokter Spesialis Paru dari
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia menyatakan, “Pasien asma di Indonesia cenderung
menggunakan inhaler pelega SABA dibandingkan dengan inhaler dengan kandungan ICS
(Anti-inflamasi melalui inhaler) karena SABA dirasakan dapat memberi efek lega secara
cepat, dan telah menjadi lini pertama terapi asma sejak lama. Sebenarnya penggunaan
inhaler pelega SABA secara teratur, dapat mengurangi efek atau manfaatnya, sehingga untuk mendapatkan efek yang sama, diperlukan lebih banyak inhalasi atau obat. Terlebih lagi penggunaan SABA secara berlebih dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan asma, rawat inap karena asma, bahkan kematian.

“Selain itu, pengobatan asma dengan hanya menggunakan inhaler pelega SABA tidak lagi
direkomendasikan, karena SABA tidak mengatasi peradangan yang mendasari asma.
Sebagai gantinya, pasien asma harus mendapat pengobatan yang mengandung ICS
(antiradang/anti inflamasi), contohnya kombinasi ICS-Formoterol, untuk mengurangi risiko
serangan asma. Pasien asma dianjurkan melakukan pemeriksaan rutin ke dokter untuk
memastikan kondisi asma terkontrol dan mendapatkan tindakan yang tepat, bukan hanya
mencari pengobatan instan saat serangan asma muncul,” tambahnya.
Studi Global Burden of Disease (GBD) pada tahun 2019 menunjukkan bahwa diperkirakan
terdapat 262 juta orang yang terkena asma di seluruh dunia, dengan faktor penting di mana inhaler pelega dianggap oleh pasien sebagai pengendali penyakit mereka¹, tetapi karena kurangnya pengobatan terhadap kondisi peradangan yang mendasarinya, hal tersebut sebenarnya menempatkan pasien pada risiko yang lebih besar terhadap serangan asma¹.

Untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien asma di Indonesia, kampanye
‘Stop Ketergantungan’ pun digagas. Kampanye ini bertujuan untuk mengukur risiko
ketergantungan yang berlebihan terhadap SABA dan untuk menjembatani diskusi antara
tenaga kesehatan profesional dan pasien asma untuk pengobatan asma yang optimal.
Dari sudut pandang pasien, Zaskia Adya Mecca, seorang Istri dan Ibu dari Pasien Asma
menjelaskan, “Hidup bersama suami dan anak-anak, saya pun tahu bahwa terkadang sulit
bagi penderita asma untuk konsisten mengikuti pengobatan yang harus dijalaninya, oleh
karena itu, dorongan seperti kampanye ‘Stop Ketergantungan’ ini sangat penting. Saya
menyaksikan sendiri, ketika kami melakukan konsultasi rutin dan menggunakan perawatan
dengan kandungan ICS, kondisinya berubah secara signifikan, dan itu terlihat dari penurunan gejala serta serangan yang terjadi di keluarga saya.”
Untuk menumbuhkan kesadaran pasien asma akan kondisi mereka, kampanye ‘Stop
Ketergantungan’ menyediakan media digital berbasis bukti yaitu tes ketergantungan pelega, yang dapat dibuka di www.stopketergantungan.id untuk menilai tingkat ketergantungan pasien terhadap inhaler pelega SABA. Tes ini diadaptasi dari Kuesioner Risiko SABA yang telah divalidasi. Dengan mengikuti tes ini, pasien asma akan memahami risiko dan kecenderungan ketergantungan yang berlebihan terhadap SABA, sehingga dapat
berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional untuk menentukan langkah selanjutnya
dalam pengobatan dan penanganan asma yang mereka butuhkan.

Referensi:

1. Global Initiative for Asthma (GINA). What’s New in GINA 2021. Available at: https://ginasthma.org/wp-
content/uploads/2021/05/Whats-new-in-GINA-2021_final_V2.pdf [Terakhir Diakses: April 2023]

2. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) 2021
3. Global Initiative for Asthma (GINA). GLOBAL STRATEGY FOR ASTHMA MANAGEMENT AND PREVENTION 2022.
Available at: https://ginasthma.org/wp-content/uploads/2021/05/Whats-new-in-GINA-2021_final_V2.pdf
4. O’Byrne PM, Jenkins C, Bateman ED. The Paradoxes of Asthma Management : Time for a New Approach ? Eur Respir J 2017; 50 : 1701103
5. Bateman ED, et al. Short-acting β2-agonist prescriptions are associated with poor clinical outcomes of asthma: the multi-country, cross-sectional SABINA III study. Eur Respir J 2021; in press (https://doi.org/10.1183/13993003.01402-2021)
6. Wiyono WH, et al. Evaluasi Peresepan Β2-Agonis Kerja Singkat dan Keluaran Klinis Terkait pada Manajemen Asma di Indonesia – Studi SABINA Indonesia. J Respir Indo Vol. 42 No. 2 April 2022
7. Hasil Utama Riskesdas 2018. [Online]. Available at:
https://kesmas.kemkes.go.id/assets/upload/dir_519d41d8cd98f00/files/Hasil-riskesdas-2018_1274.pdf [Terakhir
Diakses: April 2023]
8. The Global Asthma Report 2022. [Online]. Available at:
http://globalasthmanetwork.org/Global_Asthma_Report_2022.pdf [Terakhir Diakses: April 2023]
9. Chan AHY, Katzer C, Kaplan A, et al. SABA Reliance Questionnaire (SRQ): Identifying Patient Beliefs Underpinning
Reliever Overreliance in Asthma. J Allergy Clin Immunol Pract. 2020; https://doi.org/10.1016/j.jaip.2020.07.014.

Back To Top