Dorong Upaya Identifikasi Awal Kanker Ovarium – AstraZeneca, CISC, dan Kementerian Kesehatan RI Menginspirasi Perempuan Indonesia untuk Sadar akan Risiko Kesehatan Melalui “Kampanye 10 Jari: Jangan Abai, Kenali Gejala Awal dan Faktor Risiko Kanker Ovarium”

● Data Globocan tahun 2020 menunjukkan bahwa kanker ovarium menduduki peringkat ketiga sebagai kanker paling mematikan di kalangan perempuan di Indonesia, dengan jumlah kasus mencapai 14.896 dan menyebabkan 9.581 kematian pada perempuan.
● Kanker ovarium adalah penyakit yang bisa diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, penting untuk mengenali kanker ovarium pada stadium awal untuk memperoleh harapan hidup yang lebih panjang dan kualitas hidup yang lebih baik.
● “Kampanye 10 Jari: Jangan Abai, Kenali Gejala Awal dan Faktor Risiko Kanker
Ovarium” diselenggarakan dengan tujuan untuk pasien kanker ovarium dan perempuan Indonesia dapat melawan penyakit ini.

Jakarta, Mei 2023 – Dalam rangka memperingati Hari Kanker Ovarium Sedunia yang jatuh setiap tanggal 8 Mei, AstraZeneca Indonesia, bekerja sama dengan Cancer Information and Support Center (CISC) dan Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (P2PTM, Kemenkes RI), menyelenggarakan program edukasi “Kampanye 10 Jari: Jangan Abai, Kenali Gejala Dini dan Faktor Risiko Kanker Ovarium”. Program ini diikuti oleh 150 peserta, yang terdiri dari kelompok pasien, penyintas, keluarga, dan tenaga kesehatan. Tahun ini, Kampanye 10 Jari kembali diadakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan 6 faktor risiko dan 4 gejala kanker ovarium, serta mendorong para perempuan untuk mengenali gejala dan faktor risiko kanker ovarium sejak dini, demi mendapatkan perawatan yang tepat dari tenaga kesehatan serta kualitas hidup yang lebih baik.

Kanker ovarium menyerang jaringan indung telur atau ovarium, oleh karena itu siapa pun yang terlahir dengan indung telur dapat menderita kanker ovarium. Menurut The Global Burden of Cancer Study (Globocan) 2020, kanker ovarium merupakan kanker paling mematikan peringkat ketiga di antara perempuan di Indonesia, dengan total kasus mencapai 14.896 dan menyebabkan kematian pada 9.581 perempuan.

dr. Theresia Sandra Diah Ratih, MHA, Ketua Tim Kerja Penyakit Kanker dan Kelainan Darah P2PTM, Kementerian Kesehatan RI, menjelaskan, “Setiap tahunnya, kanker ovarium menyerang puluhan ribu perempuan dan merenggut ribuan nyawa. Jumlah penderita kanker di Indonesia terus meningkat dan diperkirakan akan menjadi penyebab utama meningkatnya beban ekonomi, baik bagi individu pasien, keluarga, maupun negara. Untuk mengendalikan penyakit kanker, Kementerian Kesehatan RI telah melakukan upaya pendekatan pengendalian faktor risiko dan deteksi dini yang tertuang dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) pengendalian kanker tahun 2020 – 2024. Tujuan dari program ini adalah untuk melakukan deteksi dini kanker pada ≥ 80% penduduk usia 30-50 tahun di 514 kabupaten/kota pada akhir tahun 2024, termasuk kanker ovarium. Namun, semua upaya ini tidak akan optimal tanpa dukungan dari seluruh sektor terkait, beserta seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, kami sangat mengapresiasi Kampanye 10 Jari sebagai langkah nyata membantu para penderita kanker ovarium di Indonesia.”

dr. Toto Imam Soeparmono, SpOG, K.Onk, MH, Dokter Spesialis Ginekologi Onkologi,
mengatakan, “Kanker ovarium dapat diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, terutama jika ada anggota keluarga yang pernah menderita kanker ovarium atau kanker lainnya seperti kanker payudara, prostat, kolorektal, maupun kanker rahim. Penyakit ini menjadi tantangan terbesar bagi para ahli onkologi ginekologi karena tidak menunjukkan gejala yang spesifik pada stadium awal,
melainkan baru menunjukkan gejala pada stadium lanjut di mana sel kanker telah menyebar ke organ lain. Namun demikian, para perempuan dianjurkan untuk mendeteksi kanker ovarium sejak dini dengan mengenali faktor risiko dan gejala awalnya. Selain itu, penting bagi individu yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker ovarium atau payudara untuk melakukan pemeriksaan genetik.”

“Kampanye 10 Jari” melambangkan 10 hal yang perlu kita perhatikan untuk mengenali kanker ovarium, yaitu enam faktor risiko dan empat pertanda penyakit. Yang termasuk dalam enam faktor risiko adalah: (1) memiliki riwayat kista endometriosis; (2) memiliki riwayat kanker ovarium dan/atau kanker payudara dalam keluarga; (3) mutasi genetik (misalnya BRCA); (4) paritas rendah; (5) gaya hidup yang buruk; (6) dan penuaan. Sementara itu, empat pertanda kanker ovarium adalah (1) kembung; (2) nafsu makan berkurang; (3) sering buang air kecil; (4) dan nyeri panggul atau perut.
Pada umumnya kanker ovarium tidak disertai gejala pada stadium awal.

Hanya 20% dari pasien kanker ovarium yang terdeteksi pada stadium awal, dan 94% di antaranya berhasil mencapai harapan hidup lebih dari lima tahun,oleh karena itu pasien yang didiagnosis dengan kanker ovarium harus mendapatkan penanganan segera. Perawatan dan pengobatan yang tepat memberikan peluang keberhasilan yang tinggi pada kanker ovarium stadium awal saat penyakit masih terbatas pada organ ovarium. Ketika seorang pasien didiagnosis menderita kanker ovarium,
sangat penting bagi mereka untuk berkonsultasi dengan spesialis medis dan mematuhi pengobatan. Saat ini, terapi yang paling umum untuk kanker ovarium adalah operasi dan kemoterapi.

Dalam pengobatan kanker, kepatuhan menjadi hal utama dalam proses pemulihan yang perlu dilakukan secara konsisten. Apt. Yovita Diane Titisari, M.Sc, Apoteker Klinis, mengatakan, “Penting bagi pasien kanker ovarium untuk patuh dalam menjalani pengobatan dan mengikuti instruksi dokter agar penyakit tidak semakin parah dan kambuh lagi. Pasien yang patuh dalam menjalani terapi menunjukkan kualitas hidup yang baik, sedangkan pasien yang tidak patuh menunjukkan hal yang sebaliknya. Banyak faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien, salah
satunya adalah komunikasi yang baik antara pasien dan penyedia layanan kesehatan, serta dukungan dari keluarga atau care giver. Para tenaga kesehatan seperti kami selalu berusaha memberikan dukungan agar pasien merasa lebih optimis untuk sembuh.”

Pasien kanker ovarium juga membutuhkan dukungan emosional yang dapat mendorong mereka untuk lebih patuh pada jadwal pengobatan sesuai program. Peran aktif dan kreatif komunitas dalam rangkaian pencegahan, diagnosis serta proses pengobatan sangatlah penting. Seperti yang dijelaskan oleh Aryanthi Baramuli Putri, SH., MH, sebagai Ketua Umum CISC, “Tahap awal ketika seseorang mendapatkan diagnosis kanker ovarium tentulah mengalami gelisah, galau, sedih sampai terasa hidup ini segera akan berakhir, sehingga dukungan emosional sangat dibutuhkan supaya pasien dapat mengatasi gangguan psikologis dengan cepat. CISC, yang telah berdiri sejak tahun 2003, merupakan salah satu wadah informasi dan dukungan bagi para pasien dan keluarganya.
Semoga melalui edukasi ini, semakin banyak perempuan yang tergerak hatinya mau melakukan pencegahan. Jika ada pasien yang mendapat diagnosis kanker ovarium, kami CISC siap memberikandukungan agar pasien kanker ovarium di Indonesia dapat menjalani pengobatan yang bermutu dan tepat waktu.”

dr. Feddy, Medical Director AstraZeneca Indonesia, menambahkan, “Untuk memperoleh kualitas hidup yang lebih baik, pengobatan kanker ovarium membutuhkan tindakan dan penanganan medis sejak dini. Melalui Kampanye 10 Jari, kami mengajak setiap perempuan dan keluarganya di Indonesia untuk menyadari bahaya kanker ovarium dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk
mengantisipasi kondisi yang fatal ini. Selain itu, AstraZeneca, sebagai perusahaan biofarmasi global, berkomitmen untuk menghadirkan pengobatan kanker yang inovatif dan terobosan baru bagi para pasien, termasuk pasien kanker ovarium di Indonesia.”

Kampanye 10 Jari diinisiasi oleh AstraZeneca dan CISC pada bulan Mei 2021. AstraZeneca telah berkolaborasi dengan berbagai mitra strategis, seperti Kementerian Kesehatan RI dan Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kanker ovarium.

Back To Top