Peluncuran FFI 2018

This slideshow requires JavaScript.

FFI Memasuki Babak Baru

Jakarta, Oktober 2018 – Sejak pertama kalo diselenggarakan pada 1955, Festival Film Indonesia 9FFI) digagas sebagai barometer perkembangan kualitas perfilman Indonesia. Melalui berbagai penghargaan yang diberikan, publik dan kalangan perfilman sendiri bisa membaca pencapaian terbaik yang dihasilkan pekerja film tanah air selama setahun terakhir.

Dalam perkembangannya dari tahun ke tahun FFI menghadapi banyak tantangan, namun dari waktu ke waktu pula penyelenggaraan FFI terus diperbaiki. Untuk mengembalikan gagasan awal penyelenggaraan FFI tersebut, pada waktu-waktu tertentu khususnya ketika perubahan atau perkembangan situasi memerlukan, dibutuhkan perbaikan yang lebih strategis atau paradigmatik.

Mulai tahun ini FFI akan memasuki babak baru. Dari semula program penghargaan tahunan, FFI kini menjadi sebuah entitas yang beroperasi sepanjang tahun dan kerjanya berfokus pada usaha-usaha meningkatkan kualitas film Indonesia untuk memperkuat sisi budaya dan estetika film.

Melalui Surat Keputusan (SK) Ketua Umum BPI, telah dibentuk Komite FFI (Festival Film Indonesia) dengan masa kerja tiga tahun (2018-2020). Komite FFi diketuai Lukman Sardi dengan anggota pengurus: Catherine Keng (Sekretaris), Edwin Nazir (Keuangan & Pengembangan Usaha), Lasja F. Susatyo (Program), Nia Dinata (Penjurian), dan Coki Singgih (Komunikasi).

Komite FFI akan menjadi entitas baru, melengkapi entitas yang sudah lebih dahulu ada, untuk bersama-sama melakukan pemajuan perfilman Indonesia. Sebagaimana diketehui, sudah ada Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud (pembinaan), Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (pengembangan ekosistem), Lembaga Sensor Film (perlindungan masyarakat), Badan Perfilman Indonesia (peran serta masyarakat), Lembaga pendidikan (kajian dan pendidikan), asosiasi profesi (peningkatan profesionalisme), komunitas (pengembangan potensi masyarakat), bioskop/ruang putar (distribusi), media (apresiasi dan promosi), LSP Kreator Film (sertifikasi kompetensi), Akatara (pembiayaan perfilman), Komisi Film Daerah (layanan syuting), dan lain sebagainya.

Penjurian menjadi sebuah sistem yang mampu menetapkan secara tepat film dan kerja artistik yang seharusnya dijadikan tolok ukur pada masanya. Tiga kriteria yang digunakan sebagai dasar penilaian adalah gagasan tema, kualitas estetika, serta profesionalisme. Untuk mewujudkan hasil terbaik dari sistem tersebut, penjurian melibatkan partisipasi aktif asosiasi profesi dan komunitas melalui proses seleksi internal. Bentuk penjurian ini dimaksudkan juga agar ke depannya terjadi penguatan kelembagaan serta profesionalisme asosiasi profesi dan komunitas yang ada.

Tahapan penjurian oleh asosiasi profesi dan komunitas akan berlangsung 2-25 Oktober 2018. Pengumuman nominasi direncanakan 6 November 2018. Selanjutnya pemenang Piala Citra FFI 2018 diumumkan dalam Malam Anugerah pada Desember 2018. Sebagaimana sebelumnya, seluruh proses penjurian dilakukan di bawah pengawasan publik independen, Deloitte Consulting.

About Author: R Indra Rezky Kencana Dewa

Gravatar Image
MICE & Lifestyle Portal Contact: +628979799878 [WA] ; +628118115567 [Call] Advertising: =6287889015567 [Text] Email: [email protected]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *