Shell Indonesia Gelar Shell ExpertConnect Diskusikan Penerapan B30 di Indonesia

Tampak foto (ki-ka): 1. Mohammad Rachman Hidayat (Product Application Specialist – Shell Global Commercial Technology), 2. Taryono (Technical Service Division Head HINO), 3. I Made Yatna (GM Plant Operation BUMA), 4. Nanang Hermawan (Head of Fuel and Aviation Researcher Group – LEMIGAS) dan 5. Aisyah Maryam Namirah (moderator).

Shell Indonesia bekerja-sama dengan Pusat Penelitian Lemigas dan pelaku bisnis menghadirkan forum diskusi panel untuk ikut berpartisipasi aktif dalam mensukseskan penerapan B30 di Indonesia.

Jakarta, Februari 2020. Untuk ketiga kalinya Shell Indonesia menggelar acara Shell ExpertConnect yang merupakan wadah kolaborasi dan forum diskusi tentang topik tren industri terkini pada 20 Februari 2020 di Jakarta. Dalam kesempatan kali ini, Shell bekerja sama dengan Pusat Penelitian Lemigas mengambil topik “Maximizing Performance in B30 implementation Era” yang dihadiri oleh lebih dari 160 mitra dan pelaku bisnis.

Andri Pratiwa, Deputy Director Shell Lubricants Indonesia mengatakan, “Shell berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, terutama pelaku bisnis, dalam berbagi informasi dan pengetahuan mengenai teknologi terkini dan penerapannya. Dengan berkolaborasi, kita dapat bekerjasama mengantisipasi tantangan yang mungkin terjadi di masa depan, dan sekaligus turut memberikan kontribusi positif terhadap kemajuan ilmu dan teknologi di Indonesia. Di Shell ExpertConnect kali ini, kami menghadirkan para pakar juga pelaku bisnis di industri terkait untuk dapat berbagi pengalaman, pengetahuan dan praktek terbaik untuk mensukseskan implementasi B30.”

This slideshow requires JavaScript.

Para pakar yang menjadi pembicara dalam acara Shell ExpertConnect kali ini diantaranya adalah, Nanang Hermawan sebagai Head of Fuel and Aviation Researcher Group – LEMIGAS, I Made Yatna sebagai GM Plant Operation BUMA, Taryono sebagai Technical Service Division Head HINO, dan Mohammad Rachman Hidayat Product Application Specialist – Shell Global Commercial Technology.

Dalam kesempatan itu, I Made Yatna dan Taryono menyambut baik acara Experconnect yang dilakukan Shell yang memaparkan dengan jelas fakta dan uji lapangan dari B30 baik dari sisi scientific maupun business practical dan bisa memberikan pengaruh positive terhadap pelaku bisnis yang menggunakan B30.

I Made Yatna mengatakan, dari hasil bench test yang mereka lakukan terhadap B30, bahwa terjadi kenaikan penggunaan bahan bakar (fuel consumption) sebesar 0.83% jika dibandingkan dengan bahan bakar konvensional dan ini mengkonfirmasi data spesifikasi B30 dari LEMIGAS.

Di sisi lain karena POME memiliki sifat membersihkan, maka akan mempengaruhi penggunaan fuel filter. Namun Buma sangat mendukung program pemerintah ini dan siap bekerjasama dengan pihak terkait untuk pengujian lebih jauh dan antisipasi yang diperlukan.

Kesiapan implementasi B30 ini juga dilakukan oleh produsen HINO, dimana mereka melakukan inovasi pada fuel system truck dan bus dengan memperbesar kapasitas fuel filter serta menyiapkan option fuel strainer dan mengubah bahan pelapis pada fuel tank dan piping untuk meningkatkan daya tahan kendaraan terhadap penggunaan B30 di Unit truk dan bus HINO terbaru.
Sementara itu Nanang Hermawan, Head of Fuel and Aviation Researcher Group LEMIGAS mengatakan bahwa pemanfaatan B30 telah melalui serangkaian pengujian, dari pengujian fisika kimia, performance test engine, uji kompatibilitas material dan pengujian stabilitas penyimpanan.
Sehingga menurut Nanang, B30 sudah siap untuk diimplementasikan dalam rangka mendukung regulasi Pemerintah.
Mohammad Rachman Hidayat, Shell Asia Pacific Product App Specialist memaparkan tantangan–tantangan yang dihadapi pelaku bisnis yang menggunakan B30 dibanding dengan bahan bakar konvensional. Secara umum B30 berbasis POME (Palm Oil Methyl Ester) sangat mempengaruhi sistem bahan bakar dan pelumasan. Rahman menuturkan dari sisi nilai korosi pada temperature tinggi, POME yang dipakai di Indonesia memiliki tingkat keasaaman yang rendah dibandingkan dengan RME (Rapeseed Methyl Ester) yang biasa digunakan di Eropa.

“Berdasarkan pengalaman dan data Shell, pelumas yang memiliki klasifikasi mutu oil mesin API Service CI-4 terbukti mampu mengatasi bahan bakar B30 atau lebih. Hal ini disebabkan API CI- 4 ini memiliki sifat soot handling yang lebih baik dibanding klasifikasi API Service di bawahnya.
Klasifikasi CI-4 juga compatible dengan mesin dengan standar emisi EURO IV (non DPF) yang akan segera di terapkan di Indonesia. Karena B30 memiliki kandungan Sulphur yang lebih rendah, sehingga memungkinkan untuk memperpanjang oil drain interval,” jelas Rahman.
Sementara itu dalam penutupannya Bambang Wahyudi, VP Technical Shell Lubricants Indonesia mengharapkan akan lebih banyak lagi forum-forum seperti Shell ExpertConnect yang memberikan kesempatan bagi pelaku bisnis untuk memahami informasi-informasi teknis yang didukung oleh data ilmiah dan dapat membantu peningkatan produktivitas. “Forum diskusi
seperti ini juga dapat membantu pelaku bisnis dalam mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang diwajibkan untuk industry dan meminimalkan dampak negatif dari penyebaran informasi yang tidak di dukung oleh data ilmiah,” kata Bambang.

Tentang Shell Indonesia
Sejarah Royal Dutch Shell di Indonesia telah dimulai lebih dari 100 tahun lalu, sejak penemuan minyak pertamanya di Pangkalan Brandan, Sumatra Utara. Saat ini, bidang usaha Shell di sektor usaha hilir cukup kuat di Indonesia. Shell merupakan perusahaan minyak internasional pertama yang bergerak di bisnis ritel SPBU di Indonesia dengan 100 lokasi pengoperasian SPBU di wilayah Jabodetabek, Bandung, Sumatera Utara, dan Jawa Timur. Shell Memiliki dan mengoperasikan terminal BBM di Gresik.
Di tahun 2006, Shell memulai bisnis bahan bakar komersial, marine, dan bitumen di Indonesia, serta menyediakan produk pelumas dan bantuan teknis terkait untuk sektor industri, transportasi, dan pertambangan. Shell juga merupakan salah satu pemegang pangsa pasar pelumas terbesar di Indonesia yang melayani pemilik kendaraan bermotor dan pelanggan dari sektor industri. Sebagai bagian dari komitmen Shell di Indonesia, Shell membangun pabrik pelumas (LOBP) di Marunda, Bekasi dengan total kapasitas produksi mencapai 136 juta liter (120 ribu ton)
Di sektor hulu, Shell merupakan mitra strategis dari Inpex, operator Masela PSC, yang mencakup lapangan gas Abadi.

Tentang Shell Lubricants
Istilah "Pelumas Shell" secara kolektif mengacu pada perusahaan-perusahaan Grup Shell yang bergerak dalam bisnis pelumas. Shell menjual berbagai jenis pelumas untuk memenuhi kebutuhan konsumen dalam berbagai aplikasi termasuk kendaraan bermotor, alat transportasi berat, pertambangan, pembangkit tenaga listrik dan layanan teknis umum lainnya. Portofolio merek pelumas Shell termasuk Pennzoil, Quaker State, Shell Helix, Shell Rotella, Shell Tellus, dan Shell Rimula. Shell aktif dalam keseluruhan rantai pasokan pelumas. Shell mengolah bahan dasar di delapan pabrik, mencampur bahan dasar dengan zat aditif untuk membuat pelumas di 50 pabrik, mendistribusikan, memasarkan dan menjual pelumas di lebih dari 100 negara.

Shell juga menyediakan dukungan teknis dan dukungan bisnis kepada pelanggannya. Shell menawarkan layanan yang berkaitan dengan pelumas sebagai tambahan untuk jajaran produknya. Layanan ini meliputi: Shell LubeMatch – sistem online yang merekomendasikan produk terdepan, Shell LubeAdvisor– membantu konsumen untuk memilih pelumas yang tepat melalui staf teknis Shell yang sangat terlatih maupun sistem online dan Shell LubeAnalyst – sistem peringatan dini yang memungkinkan pelanggan untuk memonitor kondisi peralatan dan pelumas mereka, membantu menghemat biaya perawatan dan menghindari potensi kehilangan pendapatan bisnis karena kegagalan peralatan atau mesin. Teknologi kelas dunia Shell ditujukan untuk memberikan nilai terhadap para pelanggannya. Inovasi, aplikasi produk dan kolaborasi teknis merupakan prioritas yang ingin diberikan oleh pelumas Shell. Shell memimpin pusat penelitian pelumas di Jerman, Jepang (bekerja sama dengan Shell Showa), Inggris dan Amerika.

Kami berinvestasi secara signifikan dalam teknologi dan bekerja sama dengan para pelanggan kami untuk mengembangkan pelumas yang inovatif. Kami memiliki lebih dari 150 seri untuk hak paten pelumas, bahan dasarbahan dasar dan minyak pelumas; dan lebih dari 200 ilmuwan serta ahli pelumas dikerahkan untuk penelitian dan pengembangan minyak pelumas. Manfaat yang didapatkan oleh pelanggan termasuk biaya pemeliharaan mesin yang lebih rendah, umur peralatan yang lebih lama dan pengurangan konsumsi energi. Salah satu cara kita mendorong batas-batas teknologi pelumas adalah dengan bekerja sama dengan tim balap kendaraan bermotor papan atas seperti Scuderia Ferrari.
Kemitraan teknis ini memungkinkan kita untuk memperluas pengetahuan kita tentang ilmu pelumasan dan mentransfer teknologi mutakhir dari sirkuit untuk produk komersial kami. Shell telah diakui sebagai produsen pelumas terkemuka dunia berdasarkan laporan tahunan, yang diterbitkan oleh Kline & Company untuk sektor pelumas global (Industri Pelumas Global Edisi 17: Analisis dan Penilaian Pasar: laporan 2019). Laporan tersebut mengonfirmasi posisi Shell sebagai pemimpin pasar pelumas global dengan 11% pangsa pasar di tahun 2016. Pencapaian tersebut merupakan tahun ke-13 Shell Lubricants sebagai pemasok pelumas nomor satu dunia.

Leave a Reply